Selasa, 24 April 2018

TERJALNYA GUNUNG SALAK via CIDAHU

           Hai! Kembali lagi, ketemu lagi dengan cerita mendaki gunung yang memang mengandung sejuta cerita setiap kali menjamahnya. Setelah 2 bulan yang lalu berhasil memijakkan kaki di Gunung Lembu, Purwakarta (Untuk detail ceritanya bisa klik di sini). Kali ini saya akan membagi cerita pengalaman mendaki Gunung yang selalu kelihatan dari Jabodetabek, tepatnya si bagi orang Jakarta-Bogor, yaitu Gunung Salak. Tak Seperti gunung-gunung lain yang nge-hits, Gunung Salak termasuk gunung yang cukup sepi dan masih sangat alami jalur pendakiannya. Dan setelah mendakinya baru ketahuan misteri tentang tak nge-hits nya gunung salak, bahkan sangat jarang adanya open trip ke gunung ini. Jika kalian ingin menguju tekad, perjuangan dan push your limit mendakilah Gunung Salak ini. So, sebelum saya bercerita mari kita berkenalan dengan Gunung Salak ini. Cekidot!
            Gunung Salak secara administratif terletak di antara kebupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor. Gunung Salak dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Gunung ini terlihat gagah dan dapat di pandang dari berbagai sudut kota di sekitarnya, ujung gunung yang lebar dan terlihat seperti buah salak. Tapi jangan ditanya ada pohon salak apa tidak, karena nama Salak berasal dari bahasa sansekerta yaitu Salaka yang artinya perak. Ada beragam versi kenapa gunung ini dinamakan dengan mana Gunung Salak. Seperti Gunung-Gunung di Indonesia yang lain, Gunung Salak juga mempunyai mitos dan terkenal angker, apalagi setelah kejadian Jatuhnya Pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang menewaskan seluruh 45 penumpang. Puncak Gunung Salak memiliki 9 puncak namun yang cukup terkenal dan sering dijamahi para pendaki ada 2 yaitu yaitu puncak 1 dan puncak 2. Puncak 1 merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 2211 mdpl. Tak terlalu tinggi memang, namun seperti kata orang bijak, “Jangan memandang Gunung hanya dari Ketinggiannya semata”, karena memang benar ketinggian tak berlaku bagi Gunung Salak ini. Jalur pendakian Puncak 1 Gunung Salak dapat ditempuh via Cimelati, Sukabumi; Cidahu, Sukabumi; Gunung Bunder, Bogor; Pasir Rengit, Sukabumi dan Ajisaka, Tamansari, Bogor. Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi pengalaman mendaki Puncak 1 Gunung salak Via Cidahu, Sukabumi.

Gunung Salak (Dari Berbagai Sumber)

            Pendakian dimulai Hari Jumat malam, selepas gawe di Ibu Kota. Kami berlima (Mas Gaos, Mas Udin, Mas Yudi, Mas Akhmad dan Saya sendiri) berkumpul terlebih dahulu di Rumah Mas Udin, tak jauh dari Stasiun Bojonggede. Setelah semua berkumpul dan siap sekitar pukul setengah 11 malam, kami menuju Cidahu, Sukabumi menggunakan mobil sewaan. Perjalan cukup lancar bisa untuk istirahat menyimpan energi untuk esok hari. Tak lama perjalanan sekitar pukul stengah 2 pagi kami sampai di Base Camp Pendakian Gunung Salak di desa Cidahu, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Dengan mata yang masih kantuk serta hawa dingin pagi Cidahu yang mulai menusuk tulang, kami pindahkan barang bawaan ke balai yang ada di belakang base camp, lumayan dapat tidur sejenak meski alas balai agak basah karena hari sebelumnya hujan. Sempat tidur cukup pulas namun tiba-tiba terbangun karena menggigil kedinginan lanjut tidur lagi hingga akhirnya terbangun dan melihat jam sudah pukul 5 pagi. Kami bergantian ke toilet yang tersedia di base camp dan mengambil wudhu untuk sholat subuh. Tak lama setelah Shubuh ada beberapa yang mandi dan buang hajat sebelum 2 hari ditahan biat tidak keluar di atas gunung hehe.. Puas sarapan pagi, kami siap-siap packing ulang agar lebih padat dan ringan untuk di bawa naik ke Gunung Salak. Jam setengah 8 pagi kami berangkat dari Base Camp.
            Menurut hasil pencarian dari cerita-cerita pengalaman mendaki gunung Salak, Perjalanan dari Base Camp menyusuri Jalanan Aspal menuju Pintu Rimba sekitar 1 km. Setelah memasuki Pintu Rimba, perjalanan dilanjutkan menuju Simpang Bajuri sekitar 3 km. Pendakian Gunung Salak tidak mengenal pos-pos, melainkan tanda HM dari Pintu Rimba hingga Puncak Salak. Dari Pintu Rimba ke simpang bajuri dimulai dari HM 0 hingga  HM 30, Sedangkan perjalanan dari Simpang Bajuri menuju Puncak Salak dimulai dari HM 0 hingga HM 50. Ya, Perjalanan Menuju Puncak Salak memakan jarak sekitar 9 Km, bisa dibayangkan betapa jauhnya itu.


Melewati jalanan aspal selepas base camp

            Base Camp – Simpang Bajuri
            Start Pendakian dimulai dari Base Camp menuju Pintu Rimba dengan menelusuri jalanan aspal dengan kontur yang menanjak terus. Lumayan sebagai pemanasan sebelum masuk jalur hutan. Sebenarnya dari base camp menuju pintu rimba terdapat mobil balai atau orang lewat yang bisa dimintai tumpangan, tapi kemarin kami tak ada satupun yang lewat huhu. FYI. Sebenarnya dari Base Camp, jika cuaca cerah puncak Salak 1 sudah dapat terlihat, itu artinya perjalanan masih jauh haha. Sesampai di Pintu Rimba, alias pintu gerbang pendakian sesungguhnya kami sempatkan foto-foto biar eksis dengan muka penuh gembira dan segar, ibarat selebgram, postingan “Before Pendakian”.


Ngeksis dulu sebelum masuk hutan

            Memasuki pintu rimba, pukul stengah 9, jalur mulai didominasi oleh bebatuan setapak dengan track menanjak. Lumayan menanjak kemudian turun lagi melewati sungai kecil nanjak lagi kemudian turun lagi. Tak disangka disebelah kanan seberang pagar besi ada jalur aspal, sempat baca di postingan-postingan Pendakian Gunung Salak memang ada jalur aspal dari Pintu Rimba menuju Simpang Bajuri melalui Javana Spa. Namun karena ketidaktahuan, kami jalan lurus-lurus aja ngikutin jalur setapak naik turun naik lagi. Beberapa kali kami berhenti sejenak meluruskan punggung yang mulai pegal menggendong keril. Jalanan tanah yang agak becek karena sebelumnya diguyur hujan membuat sepatu agak licin dan harus memilah-milah pijakan agar tak hanya sepatu tidak terlalu kotor tetapi juga menjaga pijakan sepatu agar tidak licin. Vegetasi nya pun rapat khas TNGHS.


Langsung gas tanjakan begitu masuk hutan

Ada banyak sungai kecil di jalur ini

            Pukul 10 kami akhirnya sampai di simpang bajuri. FYI, Simpang bajuri merupakan simpang tiga antara jalur menuju puncak Salak 1 dan jalur menuju kawah ratu. Di simpang bajuri ini merupakan sumber air terakhir sebelum pendakian menuju puncak salak 1, so management air yang baik akan mempengaruhi kualitas dan keselamatan pendakian. Pos atau simpang bajuri ini terdapat 2 lapangan yang cukup untuk mendirikan tenda yang dipisahkan oleh sungai kecil, di tempat ini bisa juga dijadikan sebagai tempat alternatif mendirikan tenda, tapi kalo dipikir-pikir perjalanan ke puncak masih cukup jauh 5 Km lagi jadi ngapain ngecamp di sini wkwkw. Oia, menurut plang di pintu masuk rimba, jarak simpang bajuri ke kawah ratu sekitar 1,7 Km, dan simpang bajuri ini juga titik temu bagi pendaki yang naik dari Pasir Rengit kemudian melewati kawah ratu, sampai di simpang bajuri lalu naik ke puncak salak 1. Gokil men kalo naik ke Gunung Salak via Pasir Rengit, bakal Lebih ekstrem dari yang kami alami.


Simpang Bajuri, Bisa untuk melepas penat

            Oia, selama pejalanan dari pintu rimba menuju simpang bajuri, kami tidak berpapasan dengan pendaki lain, baru pada simpang bajuri kami bertemu dengan 2 rombongan yang berisi 6 orang dan 2 orang yang sama-sama sedang beristirahat dan akan naik. Bisa dibayangkan betapa sepinya pendakian gunung salak ini.
            HM 0 – HM 6
            Agak-nya perjalanan dari simpang bajuri menuju puncak salak 1 saya bagi-bagi berdasarkan tipe jalur yang dilalui. Kami meninggalkan simpang bajuri dengan energi yang cukup dan riang gembira setelah istirahat sejenak. Trek menuju puncak dimulai dari HM 0 kembali hingga HM 50. HM-HM awal didominasi dengan trek tanah dan akar-akar dengan kontur yang naik turun. Lumayan sebagai pemanasan dan hampir menipu kami karena kami sempat senang karena trek sudah mulai naik, eh tiba-tiba turun lagi, habis itu naik lagi, eh turun lagi. Vegetasi jalur rapat dan semakin jauh semakin becek jalurnya karena didominasi oleh tanah merah dan akar2 yang semakin tinggi.
            Boleh dibilang, jalur HM 0 sampai HM 6 sebagai pemanasan sebelum dihajar oleh jalur Salak sesungguhnya. Hahahaha..
            HM 7 – HM 11
         Selepas HM 6, Jalur masih didominasi dengan kontur yang naik turun. Namun ada yang berbeda dibandingkan dengan jalur sebelum HM7 ini. Potongan jalur versi saya ini mulai menawarkan ujian lain bagi para pendaki, yaitu jalur yang semakin becek, berlumpur dengan tanah merah dan bebatuan yang licin serta rawa yang memakan jalur (Wkwkwk ada rawa hati-hati jebakan batman). Jalur yang semakin ekstrem membuat langkah semakin berat dan lama, tak hanya mengandalkan kekuatan otot namun juga mengandalkan daya pikir otak untuk memilih pijakan yang tidak berlumpur. Salah pijakan, bisa terjerembab ke dalam lumpur dari sedalam mata kaki hingga sebetis. (Waspadalah.. Waspadalah)


Istirahat dulu Bray

           Baru 2 HM, Kami memutuskan untuk beristirahat agak lama sambil makan bekal yang dibawa dari base camp plus sholat dhuhur dijamak dengan sholat isya mumpung pakaian belum terlalu kotor oleh kejamnya jalur Salak ini.  Di tempat istirahat kami bersama dengan 2 pendaki lain yang berasal dari Tanjung Priok naik motor ke Cidahu (Gokil men), dan lebih gokil lagi mereka mendaki menggunakan sendal gunung. Gosong lumpur dah kaki mereka, kejeblos mulu. Positifnya mereka dapat berjalan lebih cepat karena main terabas-terabas aja tanpa mikir pijakan yang safe.


Kaya lagi tes masuk Kopassus

            Sampai di HM 8 tempat kami istirahat sekitar pukul 12 siang kurang, istirahat sholat makan sekitar hampir sejam kami lanjutkan perjalanan menuju puncak. Harapan bisa nge-camp di puncak. Tak di sangka, setelah turunan HM 8 langsung disuguhi pohon tumbang + rawa di bawahnya yang membuat kami harus jalan jongkok mentang kaki agar tidak terjebak lumpur (Cobaan apa lagi ini). Ini juga yang membuat paha kanan saya ketarik, mungkin karena kelamaan istirahat. Setelah oke, baru lanjut perjalanan mengarungi rawa yang becek gak ada ojek, akar batu tajam, tanaman duri di kiri kanan. Mantaps.
            HM 12 – HM 27
         De Javu. Mungkin inilah gambaran trek ini. Setelah 11 HM dengan kontur yang naik turun hingga kami mengira kok kaya gini ya Salak naik turun ga nyampe-nyampe dah. Mulai deh, dari HM 12 setelah lulus dari ujian per-rawa-an yang becek, trek cenderung naik terus paling hanya ada bonus jalan datar atau turunan sedikit kemudian nanjak lagi. Trek nya? Perpaduan antara HM 0 – HM 11. Lho kok gitu? Lah iya kok, mendaki gunung Salak itu semakin banyak HM nya itu semakin berkali-kali lipat ujiannya. Sudah naik terus, banyak akar, tanjakan juga sudah mulai tinggi-tinggi hingga lutut ketemu dada, becek, batu licin hingga tanah merah yang menjerumuskan.
            Pada tahap ini, ujian yang sesungguhnya di mulai. Kaki-punggung sudah terasa pegal, nanjak terus, licin dan hujan. Ya, di tengah perjalanan tiba-tiba hujan deras mengguyur, meskipun vegetasi rapat namun saking derasnya, air hujan masih terasa ke bawah. Kami memutuskan untuk menggunakan jas hujan karena mengantisipasi kedinginan dan pakaian basah kuyup. Naik menggunakan jas hujan memang tidak fleksibel pergerakannya apalagi tanjakan tinggi dan keringat tak bisa keluar karena tertutupi jas hujan. Tak lama berjalan, hujan mulai reda. Ehh.. di HM 20 an mulai hujan lagi. Pake lagi dah, dan saya memutuskan untuk tetap memakai jas hujan entah sudah reda maupun masih gerimis rintik-rintik.
            Sampai jam berapa kami sampai di HM 27? Kami pun tak melihat jam karena mulai dari sini sudah tidak memikirkan ini HM berapa, paling kalau ketemu patok dan ngeh saja. Kalau tidak salah pukul 3 sore. Jujur mulai dari sini fokus mengatur ritme energi, napas dan ketahanan serta tekad perjuangan. Bener ini serius!.
            HM 28 – HM 38 (PUNCAK BAYANGAN)
         Eng ing eng… inilah jalur dengan trek yang Gokil segokil gokil gokil gokilnya (Maap agak lebay), karena kondisi fisik sudah mulai nge-drop, selepas hujan, kabut mulai turun, kram mulai berasa timbul tenggelam, berkali-kali jadi orang lain menyemangati diri sendiri meski dari dalam diri ingin menyerah, limit batas kekuatan yang dirasakan, sampai pasrah (Mpun, mboten malih – Cukup Sekali ini saja). Trek nya gimana? Kombinasi jalur HM 0 hingga HM 27 plus tanjakan yang mulai ekstrem hingga hampir 90 derajat yang tersusun dari akar pohon maupun batu, dengan tali webbing maupun tanpa webbing. Bisa membayangkan? Saya rasa imajinasi saja tidak cukup tanpa mengalaminya langsung.


Tanjakan Jancuk

         Perjalanan ini makin terasa lama karena punggung sudah pegal, kaki beberapa kali kram hingga pandangan sudah mulai tertutup kabut. Oh iya, selepas HM 32 jalur makin ekstrem bukan karena tanjakan iblis yang hampir 90 derajat, namun juga karena jalurnya diapit jurang di kiri dan kanan. Benar-benar ekstra hati-hati, salah fokus dan tidak seimbang bisa bahaya apalagi kondisi sudah mulai sore dengan jarak pandang 5-10 meter. Benar-benar Gokil.
          Bagi saya yang sudah pasrah, beruntung naik bersama tim yang sama-sama saling menjaga dan menyemangati. Kita semua sepakat untuk nge-camp di puncak bayangan karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan lagi dengan kabut yang mulai tebal serta senja yang mulai hilang. Puncak bayangan di HM berapa? Kami pun tak tahu, pokoknya di HM 30 ke atas, HM 33? Bukan, lanjut lag. HM 35? Bukan juga, lanjut lagi, kram lagi. Akhirnya setelah tanjakan dengan tenaga kritis merah kaya hp lowbat, kami melihat tanah datar dengan tenda berdiri di atasnya. Alangkah bahagianya, bisa sampai puncak bayangan. Alhamdulillahhh… Yeayyy.. HM berapa ini? HM 38, artinya masih ada 12 HM lagi or 1,2 KM lagi menuju puncak Manik Salak 1. Bodo amat, yang penting bisa istirahat merebahkan badan, makan mengisi energi.
            BERMALAM DI PUNCAK BAYANGAN
           Tak lama beristirahat karena sudah dikejar dengan gelap malam dan hawa dingin yang mulai terasa. Gunung salak ini tidak terlalu dingin dibandingkan dengan gunung lain mungkin karena tak terlalu tinggi juga karena sering diguyur hujan sehingga suhu udara tidak terlalu ekstrim turun pada malam dan menjelang fajar. Selesai mendirikan tenda, ganti baju karena sudah sangat kotor, becek dan basah diguyur hujan. Untung-nya sesampai di puncak banyangan hujan sudah reda sehingga kami bisa mendirikan tenda dengan tenang.
           Rasa lelah yang sangat bagi saya membuat tubuh ini serasa ingin langsung rebahan. Maklum bagi saya, baru kali ini mendaki gunung dengan membawa tas keril 70 L. Baru pula (Sombong dikit gapapa :P). Setelah menghitung sisa air yang tersedia, kami memutuskan untuk tidak masak nasi dikarenakan saldo air bersih sudah mulai menipis dan badan sudah sangat lelah. Akhirnya kami hanya masak mie dan tampe goreng. Itu saja sudah cukup sebagai pengisi perut karena tubuh sudah sangat lelah. Proyeksi bangun dan summit sehabis shubuh.
            HM 39 – HM 50 (SUMMIT ATTACK)
           Pagi-pagi, kami terbangun setelah tengah malam juga sempat terbangun karena alas tidur yang tidak rata mengganjal akar-akar. Setelah solat shubuh, buang air dan ngobrol dikit kami berangkat menuju puncak salak 1. Jam 6 kami berangkat dengan modal 1 tas keril yang dibawa mas gaos berisi kompor nesting, air dan oat, dan roti tawar. Perjalanan di mulai. Trek selepas puncak bayangan sedikit menurun kemudian langsung di hajar tanjakan jancuk (nama versi saya, karena jancuk tenan tanjakannya hehe), hampir atau bahkan sudah 90° dengan dan tanpa webbing. Saya mikir ini trek gunung atau wall climbing ya. Saya rasa ada 3 tanjakan jancuk yang berurutan. Langsung bikin tubuh capek lagi, untung kemarin nge-camp di puncak bayangan. Gak bisa dibayangin kalo kemarin dipaksain untuk nge-camp di puncak manik.  Membahayakan!


Untung engga bawa keril

Pantang Menyerah...!!

        Oh ya, saran dari kami jika dari Puncak Bayangan menuju Puncak Manik Salak 1 tak usah menggunakan jaket karena bakal terasa gerah dan susah pergerakannya. Suhu Gunung Salak di pagi hari tak terlalu dingin sehingga masih bisa lah naik tanpa jaket plus agar tidak berkeringat naik tanjakan jancuk-nya. Selepas 3 tanjakan ekstrim tadi, masih ada tanjakan-tanjakan lain yang cukup ekstrim dan jalur di samping kiri-kanan jurang. Sekitar sejam setengah kami berhasil mencapai puncak manik 2211 mdpl.
            PUNCAK 1 GUNUNG SALAK, 2211 MDPL
            Finally, Puncak Manik Salak 1. 2211 mdpl. Setelah berjam-jam perjalanan, hampir kehilangan kontrol diri, frustasi di tengah jalan, ingin putar balik tapi sudah setengah jalan sampai pasrah berserah. Mungkin inilah tujuan Tuhan, Allah SWT menuntun saya untuk ikut mendaki gunung salak. Begitu banyak pengalaman berharga saya dapat. Tekad perjuangan, rasa pantang menyerah benar-benar diuji di Gunung ini. Bukan lebay, tapi memang begitu adanya. Pukul stengah 8 kami sampai di puncak manik. Butuh waktu sekitar satu jam setengah dari puncak bayangan hingga puncak salak 1 ini. Pemandangan di puncak salak 1 ini apa adanya, hanya terlihat puncak salak 2, puncak bayangan tempat semalam kami berkemah dan gunung gede pangrango dari kejauhan sebelah tenggara. Memang jika yang kamu cari adalah pemandangan di puncak yang indah, Gunung Salak ini tidak rekomendasi untuk kamu. Tapi jika yang kamu cari adalah perjuangan perjalanan menelusurinya, maka Gunung Salak ini bisa menjadi salah satu rekomendasi yang cocok untukmu. Karna hidup bukanlah hasil akhir yang utama, melainkan bagaimana perjuangan kita melewati, mengarunginya. (Cailahh Quote banget gue :D).


Puncak 2211 mdpl

Thanks Team

           Seperti ritual umum pendaki gunung, sesampainya di puncak tak afdhol jika tak mengabadikan momen. Foto di puncak gunung. Kami di puncak bersama beberapa tenda yang sudah berdiri sebelumnya. Mungkin mereka sampai di puncak dari kemarin atau berangkat lebih pagi dari kami sehingga dapat sampai puncak lebih awal. Puncak salak 1 tak terlalu luas, hanya muat sekitar 15 tenda dengan sekat-sekat rerumputan alang-alang. Selain itu, di puncak salak 1 ini terdapat makam mbah salak dan bangunan yang kami baca di cerita pengalaman orang lain terdapat tampungan air hujan yang bisa dimanfaatkan para pendaki sebagai sumber air. Tak lupa kami niatkan untuk berziarah ke mbah salak, tak ada salahnya karena kami berada di gunung salak.


Boy Band

        Perut keroncongan karena belum diisi sedari pagi. Kami buat oat seadanya yang dimakan bersama dengan roti tawar. Ternyata stok air yang kami bawa habis untuk masak oat tinggal menyisakan sedikit air yang kami bagi seadanya untuk berlima. Memang management air saat mendaki gunung apa saja itu sangat penting. Kau tak perlu belajar di kelas bangku sekolah maupun kuliah karena yang akan mengajarimu langsung adalah alam. Selesai foto, makan, minum kami kembali turun ke puncak bayangan karena waktu sudah cukup siang, jam 8 pagi. Cuma setengah jam kami di puncak, dengan perjalanan menuju puncak yang berjam-jam. Gokil. Hahahah. Tapi di situlah nikmatnya mendaki gunung. Sehingga total perjalanan yang kami lalui dari base camp Cidahu hingga puncak salak 1 adalah sbb :
-          Base Camp – Pintu Rimba : 1 Jam (1 km)
-          Pintu Rimba – Simpang Bajuri : 1,5 Jam (3 km)
-          Simpang bajuri – Puncak Bayangan : 8 Jam (3,8 km)
-          Puncak Bayangan – Puncak Manik (Salak 1) : 1,5 Jam (1,2 km)
Total Perjalanan 12 Jam dengan jarak tempuh 9 Km. Dengan catatan kondisi jalur pendakian licin dan becek selepas hujan. Begitulah sedikit (eh banyak ya ini, kaya curcol hehehe) kisah perjalanan kami mendaki Gunung Salak dari Base Camp sampai Puncak Salak 1. Untuk cerita turun dari Puncak Salak hingga Base Camp kembali akan saya tulis pada postingan terpisah mengingat postingan ini saja sudah sangat panjang nanti kamu tidak kuat dan mabok hehe. Perjalanan pulang pun tak kalah menantang dan butuh tekad, semangat dan perjuangan yang tinggi.
              

             Akhir kata, mungkin Salak bagiku merupakan singkatan dari Salahkah aku bila mencintaimu. (Halah lambemu mas!). Kesan : Sampun, Mboten Malih!!!!

Senin, 01 Januari 2018

2018 Menjelang


Hai apa kabar?
Sudah 2018 saja, perasaan baru kemarin lovember, lebaran atau barusan kemarin semarak agustusan. Rasanya waktu semakin cepat berlalu. Ada banyak kenangan pastinya yang dilalui, terpatri atau hanya lewat mengantri. Berbagai cara dilakukan untuk merangkum kenangan setahun dan menyambut lembaran kenangan baru di tahun baru, dari pesta kembang api, tiup terompet, berjoget ria, bakar-bakaran, kumpul bareng atau mungkin hanya tidur setahun lamanya.

Semua cara boleh-boleh saja, semuanya benar. Namun manusia hendaknya memilih yang baik dan benar. Yang kau pilih sudah benar tapi belum tentu baik. Dan di saat yang lain sudah baik, tapi belum benar. Adakalanya manusia juga diberi akal sehingga diperintahkan untuk memilih yang paling baik di antara yang baik. Hidup manusia pun diperintahkan untuk semakin baik dari hari ke hari.

Kamu boleh pilih pesta kembang api mewah tapi meninggalkan sampah dan disekitarmu masih banyak orang yang kesusahan mencari sesuap makanan. Atau kamu bisa mengadakan pesta bakar-bakaran namun tetanggamu hanya diberi asap makanan tak diundang. Atau kamu memilih tidur semalaman padahal tetanggamu sedang mengadakan syukuran mengundang orang banyak. Atau kamu boleh meniup terompet keliling jalanan menunggu 00.00 disisi lain saudaramu sedang sakit. Atau kamu memilih menjenguk saudaramu yang sakit, menepikan impian melihat dan mengabadikan kembang api dan setelah itu saudaramu akhirnya sembuh setelah kau jenguk, diajak berbicara dan beri semangat.

Semua boleh-boleh saja, asal persiapkan pertanggungjawaban mu saja karna setiap perbuatan pasti dimintakan pertanggungjawaban. Saya yakin ada amal jariyah dan dosa jariyah. Ada amal dilipat gandalan ada dosa yang juga dilipat gandakan.

Semoga tahun yang baru menjadi refleksi, maupun pelecut kita untuk menjadi lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Dan jangan lupa tahun boleh baru, angka bertambah namun sesungguhnya jatah umur kita semakin berkurang. Seperti kata pepatah, setiap hari kita semakin dekat dengan pacul (kuburan).

Selamat tahun baru 2018
📷 : @a_m.p.v - NOTS 1117
@30haribercerita #30hbc1801 #tahunbaru #semangatbaru #energibaru #hijrah #better

Minggu, 26 November 2017

Ngayogjass

Ini bukan tentang acara minggu kemadin itu. Tapi ini tentang sebuah kisah perjalanan jazzy di jogja kala itu. 

Kalau dihitung, ini kali kelima saya ke jogja. Baru sedikit memang, namun setiap kali ke sini kota ini tetap meninggalkan kenangan dan cerita yang sayang jika menguap begitu saja. Termasuk hari ini, tepat seminggu yang lalu ku ukir cerita di kota ini.

Tiba di Stasiun Lempuyangan


Tak seperti kebiasaan umum orang berlibur, apalagi ke jogja zaman millenial seperti ini. Definisi liburan zaman now itu tak lepas dari foto2, eksis, ke tempat wisata kalau bisa yang aneh2 dan masih perawan. Bagiku, itu sudah menjadi mainstream. Saya sudah 'bosan' dengan type liburan seperti itu. Modal cuti sehari dgn hasil foto2 eksis untuk mendapat like di sosmed? Terlalu murah! Sangat sayang karena setelah kembali ke peraduan ibu kota, semua akan hilang lenyap tanpa bekas. Maka dari itu, liburan kemarin benar2 saya manfaatkan untuk sebisa mungkin membekas hingga efek liburan itu benar2 sedikit banyak mengubah fatamorgana fikiran ketika kembali ke ibu kota.

Menikmati detik demi detik bergulir di kota yogya, bercengkrama mendialektika-kan dialek jawa, mendengar menghayati obrolan bahasa daerah yang bagiku ini menjadi sebuah refresh dr kebisingan dan apalagi menikmati detik berlalu santai sambil menertawakan betapa terburu-burunya sesungguhnya kota jakarta itu. Rileks, muter-muter jogja dgn trans jogja (sampai diomongin knp ngga to the point, pdhl tau itu muter2, lho saya ini lagi liburan hehe), ngglosor di masjid kampus (menganang ngglosor bersama kawan 3-4 th yang lalu), menikmati hujan yang kebetulan 3 hari ku di sini selalu hujan sehingga makin basah kenangan yang tercipta.

Menikmati jogja dengan Transjogja


Boleh di bilang, liburan kemarin itu 60% terencana 40% ga tau mau apa. Tapi dari 60% itu seolah-olah yang benar2 terencana hanya 20-30% saja, apalagi saat hari pertama. Sangat menggelandang, tapi tak apa, sesekali kamu harus menggelandang dalam hidupmu karena saat itu kamu hanya kenal dan berharap pada Tuhan, Allah SWT semata. Menggelandang di trans jogja hingga ngglosor membuai angin masjid kampus hingga dipuncaki oleh adegan hujan di malioboro. Memang, betapa syahdunya hujan di malioboro. Apalagi jika bersamamu, sebab menikmati hujan bersamamu akan terasa lebih lengkap. Dalam dan semakin dalam hingga terangkai huruf demi huruf layaknya tetes hujan saat itu : http://bit.ly/Januboro

Hujan, Kamu dan Malioboro


Sambil senyum senyum sendiri aku melaju ke Kasihan, tempat yang mungkin satu-satunya yang terjadwal hari itu. Memang rencana Tuhan yang terbaik, aku tak marah apalagi menyesal. Pun saat di Mocopat Syafaat aku di sambut dengan Shohibul Baity yang seakan-akan menenangkan diriku, menanyakan sebenar-benar pengisi relung hati. Mendapat tiga syair sholawat dan ijazah kala galau mendera hingga tak terasa tubuh menggigil basah diguyur hujan tengah malam saat itu. MS malam itu bersama dengan @gamelankiaikanjeng benar2 merasuk ke dalam jiwa, menjadi energi baru untuk menjalani kehidupan esok hari dan lusa.

Mocopat Syafaat, Begitu Syahdu


Setelah sibuk menggelandang di hari pertama, tibalah hari di mana sudah dicanangkan dari jauh-jauh hari. Mengunjungi kota solo untuk ke dua kali. Kota yang cukup mempunyai memori masa lalu saat pertama kali berkunjung. Gelandangan di kampung sendiri, mencoba menikmati pagi dengan jalan kaki dari balapan solo ke Balekambang. Di solo, @frameofsolo siap menyambut dengan sambitan kejam galar.


Once Free, Forever Free


Ajang yang sebenarnya saya iseng2 aja ikut untuk mereguk pengalaman dan teman baru dari para master. Benar saja, beberapa peserta hari itu adalah juri-juri di ajang lain. Gilak men! 😂 Tapi tak apa, bermodal nomor cantik 1616 tetap pede hunting2 gak jelas, walau sempat buntu ide dan komposisinya. Sing penting dijalani wae, minimal buat pengalaman. Iseng2 aja, menang syukur gak menang jg tetap syukur karena sudah dpt byk pengalaman. Gitu si wejangan dari pak gojek yg saya tumpaki selama di sini. Wise bgt, pantes orang solo jadi presiden.

Waktu semakin sore, hujan deras mengawali pengumuman pemenang. Setelah hampa akan gelar namun kenyang akan pengalaman ku kembali bertolak ke Yogja. Tak sengaja disuguhi sunset solo balapan yang indah dengan latar gunung Merbabu. Kali itu juga kembali menikmati kereta lokal Prameks, yang menurut saya lumayan oke dan dingin AC nya.

Malam itu aku tak menggelandang kembali. Ku rebahkan tubuh pada @jogjabackpakerhome. Tempat menginap yang oke banget, cocok untuk backpacker. Bintang lima pokoknya. Selain tempat yang oke dengan harga bersahabat, akhirnya saya bisa mandi setelah 2 hari 2 malam 😂. 1 malam di kereta, 1 malam di MS. 1 hari di jogja, 1 hari di solo. Disini saya belajar bahasa misuhnya org jogja yaitu bajigur. Haus mas? 😂

Perjalanan saya dijogja solo dipuncaki dengan mendatangi undangan walimatul ursy neng @mentarielka dan suami. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sebarokah hujan yang turun sejak pagi pada hari minggu itu.

Semoga Sakinah Mawaddah wa Rahmah

Kondangan jaman now, kudu wefie 😅


Setelah memuncak, kemudian di-sublimasi dengan obrolan ringan yang ditemani dengan bakso tusuk dan irisan mangga segar. Hingga tak terasa waktu bergulir, detik terus melaju, jam menunjukkan pukul empat setengah.

Jogja yang ngangenin. Ayo ke Jogja


Dengan berat hati, ku harus meninggalkan jogja ini. Kembali ke uluran tangan ibu kota. Membuat jarak, mengenang perjumpaan. Terkadang untuk melihat dengan jelas kita harus menarik jarak. Dan untuk mengenang jogja kita harus bisa mengambil jarak, memutus perjumpaan agar kangen akan kota ini begitu terasa untuk pertemuan yang akan datang. Atau mungkin Tuhan sengaja menciptakan kangen bertepatan dengan datangnya bulan Cinta, bulan Lahirnya Manusia Yang Paling di Cinta. Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.

Jumat, 24 November 2017

Hujan, Kamu dan Malioboro



Ku tunggu kau di sini
Di malioboro
Bersama hujan
Rintik-rintik yang mendera
Tiap sudut jalan ini

Ku tak bosan menunggu
Seperti air
Yang menetes
Tiap sudut jalan ini
Kala rasa itu datang
Ku tepis
Ah coba setengah jam lagi

Ribuan detik kuselami
Waktu
Ruang tiap jengkal
Aspal basah
Kilo, mega, giga, tera
Tetas air yang membasahi
Ku tepis
Ah masih banyak ruang
Kemungkinan dan harapan

Semakin deras
Semakin dalam
Hingga tak terasa
Bebauan wangi aroma
Atau suara chit chat
Bising malioboro

Deras semakin deras
Membawa angin
Menusuk membisik
"Tidakkah kau sadar?"
"Hari semakin malam"

Di ujung penantian
Dering nada berbunyi
Ternyata aku sebodoh ini
Ku tak bisa mengingat
Kabar masa lalu
Memori penuh
Oleh kegembiraan

Sembari tersenyum
Ku mengigau
Ternyata aku lemah
Oleh hujan, kamu dan malioboro

Kamis, 19 Oktober 2017

DIHAJAR TANJAKAN UNLIMITED GUNUNG CIKURAY

Rasa-rasanya ini merupakan pengalaman yang cukup sulit untuk dilupakan. Pengalaman mendaki gunung pertama plus gunung yang dituju adalah gunung cikuray via pemancar yang disuguhi tanjakan unlimited sampai puncak. Gak uwis-uwis. Seperti pengen naik odong-odong aja langsung ke puncak.
Gunung Cikuray secara administratif terletak di Kabupaten Garut yang dikenal dengan Swiss van Java. Tinggi gunung ini 2821 mdpl, berbentuk kerucut besar jika dilihat dari kejauhan. Pendakian gunung ini dapat ditempuh dengan 3 jalur yaitu jalur pemancar di Dayeuhmanggung di Kecamatan Cilawu, jalur Kiara Janggot di Kecamatan Bayongbong, dan jalur di Kecamatan Cikajang. Jalur Kiara Janggot dan Jalur Pemancar akan bertemu diantara pos 6 dan pos 7. Jalur via pemancar merupakan jalur favorit dan sering digunakan oleh para pendaki karena rutenya yang singkat namun menghadirkan jalur yang terus naik hingga puncak gunung.
Jum’at malam, bagi kuli ibu kota adalah hari bahagia setelah seminggu kerja rodi banting kertas, mouse, maupun kuat-kuatan melek sama layar komputer. Hari itu, Jum’at 13 Oktober 2017, meluncurlah ke Kampung Rambutan, tempat meeting point rombongan sebelum berangkat bareng nge bis ke kampung rambutan. Kami ber-6 : Ari (@arigustiawan), Jacky (@jacky.achmad08), Ari (@ariebrews), Aulia (@auliauu), Faiz (@faizwtsqlum) dan saya sendiri, Faiq (@faiqanan) yang masuk ke dalam open trip Atmosfer Adventure (@atmosfer.adventure). [Jangan segan kalo mau follow IG kami ya, hehe]. 2 nama pertama adalah PIC Pengurus. Menuju Garut dari Kampung Rambutan cukup direkomendasikan karena bis yang tersedia cukup banyak dan jam pemberangkatan bisa sampai tengah malam. Setelah tunggu menunggu akhirnya kita berangkat dari Kampung Rambutan menuju Garut sekitar jam 10.30 menggunakan bis Kurnia Bakti. Sebenarnya, bis menuju Garut ada beraneka ragam tak hanya Kurnia Bakti, Ada Primajasa, Hiba Utama dll. Tarif Bis menuju garut kira-kira hampir sama, kami dapat tariff 52 ribu rupiah sekali jalan menggunakan bis Ekonomi AC seat 3-2. Eits tapi tunggu dulu, bis nya si berangkat dari terminal, tapi ngetem lagi di luar terminal sampai muka jalan pintu masuk tol kurang lebih sejam sampai-sampai bisa buat tidur wkwkwk.
Akhirnya bis berangkat juga. Perjalanan cukup lancar karena bisa tertidur, sempat terbangun saat di Kopo, Bandung dan daerah menuju pendakian Gunung Guntur. Setelah perjalanan sekitar 4-5 jam, kami tiba di Terminal Guntur, Garut yang langsung disambut oleh Adzan Subuh. Ohya, setelah dari terminal Guntur, untuk menuju pos pemancar dapat menggunakan mobil bak terbuka yang biasanya akan jalan jika sudah terisi penumpang sekitar 14-15 orang yang biasanya kesemuanya adalah pendaki. Ada 2 jurusan mobil bak terbuka yang ditawarkan yaitu menuju gunung papandayan dan gunung cikuray. Setelah sholat subuh dan sedikit bersih-bersih, kami menuju mobil bak terbuka yang menawarkan diri menuju pos pemancar gunung cikuray, disitu kami bertemu dengan Ina (@ina__666) dan Rahmad (@rahmad_muliady) yang sama-sama akan nanjak ke cikuray juga.

Pagi Hari di Depan Terminal Gauntur, Garut
                                   
Setelah di tunggu sampai hampir jam 5.30 tidak ada pendaki lain yang akan ke cikuray, akhirnya kami hanya ber-8 naik mobil dengan biaya yang sedikit lebih besar karena harus nombokin biaya yang seharusnya ditanggung oleh 15 orang hehe. Dari kami ber-8, hanya 3 orang yang sudah pernah naik ke Cikuray, dan dari 5 orang yang belum, 3 orang diantaranya belum pernah naik gunung. Jadi, Cikuray menjadi debut naik gunung pertama, tes mental dan stamina hahaha.
Perjalanan menuju pos pemancar cukup lancar, syahdu dengan ditemani langit pagi kota garut yang mulai bergeliat. Selama di perjalanan kami ditemani hawa udara dingin khas Garut dan pemandangan gunung cikuray dari kejauhan. Sebelum ke pos pemancar, ada pertigaan yang menuju pos pemancar yang di tengah-tengahnya ada pos kontrol bagi calon pendaki. Di situ kita diharuskan membayar 10rb per orang untuk masuk melewati kebun teh menuju pemancar. Kurang lebih satu jam dari terminal Guntur menuju pos pemancar, jalanan menuju pemancar agak berliku, tajam dan berbatu sehingga sering terasa sebagai terapi refleksi awal sebelum dihajar tanjakan unlimited khas gunung cikuray hehehe.

Gunung Cikuray dari kejauhan
                                           
Pos pemancar tak lain adalah tower relay stasiun televisi dan BTS provider telekomunikasi seluler. Ternyata salah satu dari kami pernah bekerja di sini. Di pos pemancar, ada beberapa warung yang dapat digunakan sebagai transit mengisi perut dan membuang hajat. Setelah kenyang dan hajat terselesaikan, kami pemanasan sejenak dan berdoa semoga perjalanan naik dan turun dapat berjalan dengan selamat.

Bersiap Mendaki
                                                       

POS 1
Dari pos pemancar, berjalan melalui kebun the menuju pos 1 alias pos kontrol kedua sekaligus pendataan bagi para pendaki. Saya juga belum mengerti mengapa sebelumnya ada pos di bawah, mungkin itu pos ijin masuk kebun teh kali ya kalau ini pos ijin mendaki gunung hehe. Awal pendakian kami langsung disuguhi tanjakan curam diantara kebun teh samping tower pemancar. Langkah demi langkah mulai terasa capek apalagi bagi pendaki debutan tapi lama kelamaan tubuh akan beradaptasi menerima kenyataan ini. Untungnya kondisi saat itu tidak terlalu cerah maupun terlalu mendung sehingga perjalanan mendaki kebun teh tidak terlalu panas.

 Kebun Teh dan Pemancar
                                               
Mendaki di antara Kebun Teh
                                           
Pos 1 ada Tugu untuk Foto-Foto
                                           
Sesampainya di pos 1, kami beristirahat sejenak sekaligus foto-foto narsis di depan tulisan cikuray 2921 mdpl sekaligus mengatur napas dan registrasi anggota kelompok. View dari pos 1 lumayan indah, dari situ terlihat pemancar dengan background kota garut dari kejauhan. Perjalanan dari pemancar ke pos 1 sekitar 5-10 menit.

POS 2
Tak jauh dari pos 1, terdapat beberapa warung dan tempat mengisi air. Sebagai info, perjalanan ke puncak cikuray tidak ada sumber air, jadi sumber air terakhir ya ada di pos 1 ini. Kontur jalan menanjak berupa tanah padat yang dibuat menyerupai anak tangga. Kondisi jalan saat ini masih terbuka tanpa alang-alang, jadi kami rasa jika siang bakal panas terik. Jarak pos 1 ke pos 2 lumayan jauh.

Gelandangan Numpang Eksis Hehehe
                                       
Istirahat Dulu


Pada tahap ini, beberapa dari kami sudah mulai capek apalagi bagi debutan naik gunung yang bawa tas carrier besar, yang kami menyebutnya kulkas. Saling memberi semangat dan foto-foto kami lakukan untuk menghilangkan rasa capek dan menjaga semangat karena baru pos 1 dari 7 pos menuju puncak gunung cikuray.

 Pos 2
                                                                
Setelah sekitar 20 menit, kami mulai memasuki wilayah hutan. Tanjakan-tanjakan mulai didominasi dengan akar-akar menjulur tak beraturan namun masih bisa dinaiki. Memang cikuray didominasi dengan tanjakan tak habis-habis. The real climbing is begin. Satu persatu mulai ngos-ngosan. Tak terasa 2 jam 10 menit perjalanan kami lalui dari pos 1 ke pos 2. Di pos 2 kami potong buah semangka yang dari tadi memberatkan tas Faiz layaknya dosa-dosa di bawa ke gunung wkwkw

POS 3
Setelah cukup mengisi vitamin dan air dari semangka, kami lanjut berperang kembali dengan tanjakan-tanjakan cikuray. Pos 2 ke pos 3 juga masih jauh jaraknya dengan akar-akar yang semakin rapat dan curam tanjakannya. Tanjakan pos 2 ke pos 3 kali ini boleh disebut tanjakan dengkul ketemu dada. Beberapa kali langkah nanjak, beberapa kali juga istirahat sejenak atur napas dan carrier yang agak mengsol.

Tanjakan Menuju Pos 3
                                                  
Tanjakan Lain
                                                              
Tanjakan-tanjakan menuju pos 3 kami akui memang gila dan menguji iman. Berkali-kali pula saya juga harus bisa menyemangati diri saya sendiri dan teman-teman yang lain agar dapat terus berjalan menuju pos pos berikutnya. Semangati diri sendiri ini cukup penting karena esensi mendaki gunung ialah bukan untuk menaklukan gunung itu sendiri, melainkan menaklukkan diri kita sendiri.
1 jam setengah perjalanan juga kami lalui dari pos 2 ke pos 3. Setelah sampai di pos 3, kami istirahat sejenak. Akhirnya 3 per 7 mulai terlewati wkwk. Masih ada 4 pos lagi, namun kami tak mau menghitung-hitung berapa lagi karena bisa mengendurkan semangat. Awalnya kami akan makan dari bekal yang dibeli di warung pos pemancar, namun kami tunda saja sampai di pos 4 karena jarak pos 3 ke 4 juga masih lama takutnya kalau makan duluan sampai pos 4 sudah capek lagi, padahal baru setengah perjalanan hehe


 Tanjakan Gila Lainnya
                                                             
Finally, Pos 3
                                                                     

POS 4
Perjalanan menuju pos 4 tak jauh beda dengan menuju pos 3, sama-sama sadis. Dengkul ketemu dada bahkan beberapa kali dengkul ketemu dada ketemu dagu. Nanjak unlimited tak abis-abis. Di sini hawa sudah mulai terasa dingin semilir. Beberapa kali juga kami bertemu dengan pendaki yang turun dari puncak. Ah rasanya lega kali ya turun gunung setelah menunaikan hajat di puncak.


Pos 4, Di sini kami makan siang
                                                   
Perjalanan dari pos 3 ke pos 4 sekitar satu jam lebih sedikit. Memang semakin ke sini waktu pendakian menjadi semakin pendek, selain jarak antar pos menjadi semakin pendek, kondisi tubuh kita juga sudah mulai terbiasa dengan beban dan hawa dingin. Ibarat capek tapi tidak berkeringat karena dinginnya hawa selama pendakian. Sesampai di pos 4, kami buka bekal yang dibeli di pos pemancar.

POS 5
Jarak pos 4 ke pos 5 terhitung pendek, hanya dipisahkan oleh dua tanjakan ekstrim dengan akar-akar belukar khas cikuray. Hanya sekitar 15 menitan kami sampai di pos 5.

Pos 5, Jaraknya tak jauh dari pos 4
                                                     
POS 6
Setelah cukup bersemangat karena sudah lewat pos 5 yang artinya tinggal 2 pos lagi, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 6 atau puncak bayangan. Jarak pos 5 ke pos 6 juga relatif pendek, namun lebih jauh dari jarak antar pos 4 dan 5. Pendaki-pendaki yang turun gunung mulai lebih sering kami jumpai di sepanjang perjalanan menuju pos 6, beberapa kali juga kami bertanya berapa lama lagi sampai pos 7. Maklum stamina sudah mulai menipis dihajar tanjakan tak habis-habis dari pos pemancar.


Tanah Lapang di Pos 6 atau Puncak Bayangan
Pos 6. Satu Pos Lagi


Tak kurang dari setengah jam kami sampai di pos 6 yang merupakan bidang tanah lapang yang disebut puncak bayangan. Ada sebuah bangunan semi permanen tak tertutup yang ada di pojok tanah lapang. Dari sini view awan sudah mulai terlihat, sudah mulai agak sejajar dengan posisi sekarang. Bentar lagi puncak neh ujarku dalam hati

POS 7
Beranjak dari pos 6 yang merupakan puncak bayangan, dalam benakku puncak maupun pos 7 sudah di depan mata tak jauh lagi dari sini. Kenyataannya, perjalanan pos 6 ke pos 7 merupakan medan terberat kedua setelah perjalanan pos 2 ke pos 3. Trek menjadi lebih curam, saya rasa trek paling curam adalah trek di antara pos 6 dan pos 7. Rasa-rasanya di sinilah ujian mental sesungguhnya, lanjut atau tidak. Lanjut-lah orang udah sampai pos 6. Tinggal bagaimana saling menyemangati antar anggota tim, agar tetap semangat tak putus asa. Beberapa kali istirahat, sampai ada anggota yang kram kaki beberapa kali
Ditengah-tengah pos 6 dan pos 7 terdapat bidang cukup luas sekitar 2 meter dipinggir jurang yang dapat digunakan sebagai pelepas lelah untuk memandangi awan disamping yang sudah berada di bawah tempat kita berpijak. Wow sudah di atas awan.


Di atas awan


Sebelum pos 7 terdapat bidang cukup luas, kami kira pos 7 ternyata bukan, padahal kondisi stamina sudah mulai menipis. Terus menyemangati tak henti, bentar lagi kok, dikit lagi nyampe adalah kata-kata yang terus diucapkan. Pos 7 merupakan bidang datar tidak besar-besar amat yang dapat digunakan sebagai tempat camp, sama seperti pos 6 namun lebih kecil. Mas Ari mengabarkan kalau kita akan ngecamp di atas pos 7 dimana ada bidang datar yang lebih besar dari pos 7 ini.


Tetap Semangat dan Pantang Pulang Sebelum Muncak


Finally Pos 7


Setelah di php in pos 7 (naik gunung memang ujian mental, gak boleh baper karena di php in mulu haha, kalau ga di php in pasti tidak sampai puncak karena semangat udah kendur duluan), disingsingkanlah semangat terakhir sebelum mendirikan tenda, merebahkan tubuh, ngliyep (mendaki cikuray selain capek juga ngantuk karena hawa dingin dan angin yang semilir sepanjang pendakian). Setelah dua jam lebih dari pos 6, akhirnya kami sampai di bidang datar tempat untuk mendirikan tenda. Sebenarnya tempat mendirikan tenda selain di sini juga ada di puncak maupun tepat di bawah puncak. Namun setelah pertimbangan di puncak rawan angin, badai maupun hujan dan tepat di bawah puncak pasti sudah banyak orang yang mendirikan tenda karena kami baru sampai jam stengah empat sore, kami memilih nge camp di sini saja.
Didirikanlah tenda, beres-beres, mengeluarkan barang-barang, isitrahat sejenak untuk memburu sunset di puncak. Ya, sebagai info gunung cikuray merupakan salah satu gunung yang dapat kita lihat sunrise dan sunset sekaligus. Kerenkan? Setelah kira-kira 8,5 jam trekking naik terus gak pake diskon. Ujian selanjutnya adalah hawa dingin dan angin gunung yang menusuk tulang. Pun seperti hukum kekekalan energi newton, mau naik harus bisa turun. Bisa sampai puncak, jangan lupa untuk cara turunnya, menuruni turunan2 curam, dengkul robot di akhir perjalanan... "

 Nantikan kisah selanjutnya berburu sunset dan sunrise serta asiknya menuruni gunung cikuray tanpa henti. Seperti hukum kekekalan energi newton, diawali dengan tanjakan unlimited tanpa ampun, maka akan ada turunan unlimited curam tanpa ampun di akhir. Stay tune!
Salam my trip my adventure !
Atau

My dengkul my lentur !