Menembus batas. Itulah kata-kata yang mungkin dapat mewakili perjalanan pendakian gunung Welirang-Arjuno. Semoga pengalaman ini dapat menjadi insight
bagi teman-teman yang membaca tulisan ini yang nantinya akan mendaki gunung
Arjuno maupun Welirang terutama via jalur Tretes. Mohon maaf agak Panjang, yang
tidak kuat semoga diberi kekuatan. Hahahaa….
 |
Gunung Arjuno Welirang |
-
Menuju Basecamp Tretes
Perjalanan ini kami lakukan hanya
tiga orang (Saya, Akhmad, dan Udin). Rencana awal tim kami terdiri dari lima
orang (plus Mas Opan dan Yudi), namun mereka berdua tidak dapat ikut karena ada
suatu hal yang tidak bisa ditinggal. Sempat gamang karena tim tinggal bertiga,
kami tetap bulatkan tekad untuk terus melanjutkan perdakian ini hingga
terciptalah pengalaman-pengalaman yang saya coba bagi di tulisan ini.
Perjalanan kami diawali pada hari
Jum’at, 16 November 2018 dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Menggunakan kereta
Kertajaya kami menuju Surabaya Pasar Turi. Selepas sholat jum’at dan cetak
tiket kami melakukan boarding di pintu masuk, ada hal yang tak biasa bagi kami
yaitu saat petugas Polsuska menanyakan dan menggeledah tas kami untuk mencari tabung
gas portable. Sontak hal ini cukup mengagetkan karena sebelumnya belum pernah
dan bikin dugal Akhmad karena
menurutnya hal ini cuma akal bulus petugas untuk mencari untung karena
tabung-tabung yang disita itu bisa dijual kembali. Tabung gas yang kami bawa kini
tinggal 2 dari 4, karena yang 2 kami serahkan ke petugas, yang 2 lagi kami
umpeti di sela-sela tas dengan berbihing sedikit kepada petugas. Yakali jujur amat jadi orang.
Stop dugal, kereta pun berangkat. Hal lain yang tak diinginkan pun
muncul. Kereta 14 yang kami duduki terasa panas karena 2 dari 6 AC yang
terpasang rusak, mati atau apalah namanya sehingga hawa di dalam gerbong kereta
jadi panas, sumpek, lepek. Bikin bedmud
kambuh!. Setelah beberapa orang coba mengontak kondektur yang bertugas,
termasuk saya yang coba mention twitter kai, AC yang tadinya parah jadi agak ademan sedikit. Tak mau bedmud menguasai awal perjalanan kami,
kami pun mulai bersikap bodo amat meski hawa terasa sumpek. Perjalanan mulai
lancar saat memasuki malam hari karena suhu udara menjadi agak dingin. Jam per
jam pun berlalu hingga tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Surabaya Pasar
Turi.
It’s feeling nostalgic! Kedatangan kereta di stasiun
ini pada dini hari mengingatkan saya saat pertama kali pergi ke Malang via Surabaya
5 tahun yang lalu. (Monmaap alay dikit). Setelah setor tunai dan sholat isya
kami coba keluar stasiun, siapa tau ada bapak bapak driver yang menawarkan
diri. Ternyata tidak ada. Akhirnya kami coba menggunakan aplikasi grabcar.
Dapat, menuju bapak driver yang ada di luar zona merah stasiun, berangkan ke
Basecamp Tretes.
Tretes – Surabaya ternyata
merupakan jalur wisata favorit seperti Jakarta - Puncak, Bandung – Lembang, Jogja – Kaliurang.
Pantas ada grab yang mau antar kami. Rute dari Stasiun Pasar Turi menuju Tretes
melewati Pertigaan Teminal Pandaan di Pasuruan. Capek, saya ketiduran di mobil
hingga tiba-tiba mobil berhenti di daerah Pandaan untuk belanja logistik bekal
pendakian di salah satu minimarket. Selesai belanja, mobil kemali melaju,
menanjak kea rah Tretes. Sepanjang perjalanan, bapak grabcar bercerita tentang
daerah Tretes. Menawarkan villa bahkan menawarkan villa + cewek, Hhahaaa..
Busettt kaga jadi mendaki apa nginep di villa aja. Wkwkwk. Ternyata Tretes
terkenal dengan villa dan ceweknya, saya baru tau. Hahahaa, pengalaman dan
pengetahuan baru. Next time aja pak :D. Pukul 04.00 kami sampai di basecamp
pendakian Gunung Arjuno Welirang yang berada di depan hotel Sri Tanjung.
Hotelnya bagus coy, tapi basecamp pendakiannya ibarat batu kali disejajarkan
dengan batu bacan. Wkwkwk
-
Basecamp – Pos I (Pet Bocor)
Sesampainya di basecamp, kami
bertemu dengan rombongan yang kami temui di Stasiun Pasar Turi tadi dan
beberapa rombongan pendaki yang menginap di basecamp. Tidak disediakan balai
atau saung untuk tidur sehingga kalaupun mau menginap di basecamp, tidur di
depan pintu-pintu bangunan yang ada di sana. Jam 4 pagi, langit sudah terang
karena shubuh di sini jam setengah 4. Bergegas kami repacking, mandi dan sholat. Saya dan Udin mandi sholat di masjid
dekat basecamp, sekitar 300m, lumayan skalian jalan-jalan pemanasan. Jam 6 pagi
kami sarapan di warung yang ada di basecamp serta membeli nasi bungkus untuk
bekal makan di tengah perjalanan. Jam 7 pagi, registrasi pos pendakian di buka.
Bea masuk Kawasan hutan wisata sebesar 5000 rupiah plus meninggalkan fotokopi
ktp salah satu anggota rombongan dalam hal ini yang ditinggalkan adalah ktp
saya. Oiya, Kawasan basecamp sampai pos I Pet Bocor merupakan Kawasan hutan
wisata, baru selepas pos I merupakan area pendakian. Kata bapak petugas nanti
di pos I bayar lagi 10.000 rupiah untuk simaksi.
 |
Wefie di basecamp |
Perjalanan dimulai. Trek awal
selepas basecamp didominasi bebatuan tersusun rapi, bahkan sangat rapi,
menanjak, gass poll, ditemani
nyamuk-nyamuk hutan yang jumlahnya lumayan banyak. Cukup menguras tenaga dan
bikin ngos-ngosan. Trek jalur terus
menanjak dengan belokan-belokan hingga dijumpai pertigaan. Kami ambil ke arah
kiri menuju jalan rerumputan dan alang-alang hingga kembali bertemu dengan
jalur batu beraspal yang sepertinya jalur mobil jeep. Kami kemudian belok kiri
mengikuti jalan yang kembali menanjak hingga bertemu warung. Selepas warung
kembali jalur menanjak dengan kontur batu beraspal. Setelah +- 50 menit
perjalanan kami akhirnya sampai di pos I Pet Bocor. Pos berupa bangunan
permanen yang di dalamnya disediakan fasilitas toilet dan mushola.
-
Pos I (Pet Bocor) – Pos II (Kopkopan)
Kami melakukan registrasi ulang
di pos Pet Bocor dan membayar simaksi sebesar 10.000 per orang per hari,
dikarenakan pendakian kami memakan waktu 3 hari maka tiap orang membayar 90.000
per orang. Selesai membayar tetiba ada sebuah mobil jeep yang datang dan
membuka portal. Anjay bikin kaget,
memang kabarnya mobil jeep dapat naik hingga ke pos 3, pos pondokan untuk
angkut naik turun hasil tambang belerang. Tetapi saat itu, mobil jeep
mengangkut beberapa pendaki. Enak bener naik jeep sampai pos 3. Kami bertanya
ke petugas di pos berapa bea sewa jeep sampai pos 3, beliau jawab bea sewa jeep
sampai pos 3 setahu beliau 1.500.000 rupiah sekali jalan. Wow. Mending jalan
kaki aja deh buat sobatmisqueen seperti
kami hehehee..
Perjalanan dilanjutkan selepas
pos Pet Bocor dengan trek jalur bebatuan tidak rata yang beberapa kali
menyulitkan kami karena langkah yang harus diambil Panjang atau pendek tidaklah
jelas. Cuaca yang terik membuat keringat beberapa kali berjatuhan. Panas,
nanjak terus, bebatuan. Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat dan
mengisi tenaga dengan makan cemilan maupun minum. Perjalanan benar-benar sangat
melelahkan, padahal setengah perjalanan pun belum, tas keril terasa sangat
berat. Vegetasi antara pos pet bocor dengan pos kopkopan didominasi area lahan terbuka
dengan beberapa kali dijumpai bekas lahan yang terbakar. FYI, Gunung Arjuno kabarnya telah mengalami kebakaran pada bulan
Agustus kemarin. Petak lahan hitam legam dengan alang-alang yang sudah mulai
tumbuh muncul di antara legamnya lahan yang telah terbakar. Beberapa menit terakhir
menuju pos Kopkopan, cuaca menjadi agak bersahabat dengan awan yang mengayomi
langkah-langkah kami. Setelah sekitar 4 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di
pos II, Pos Kopkopan, yang terdapat sebuah warung dengan mushola dan tentunya
sumber air yang cukup melimpah dan deras.
-
Pos II (Kopkopan) – Pos III (Pondokan)
Kami beristirahat melepas lelah dan
keril tentunya, makan bekal yang tadi pagi beli di warung basecamp sambil minum
nutrisari plus gorengan di warung yang tersedia di sana. Harga yang ditawarkan
tidak terlalu mahal, untuk segelas nutrisari dihargai 3000 rupiah, untuk
gorengan 2000 rupiah dan kerupuk 1000 rupiah. Makan, wudhu sambil membasuh
tubuh dengan kesegaran mata air yang terpancar dari paralon yang airnya segar
tak terkira, lalu tak lupa kami sholat. Sambil menunggu sholat bergantian, tak
lupa mengecek hidrasi tubuh dengan cara cek warna urin. Ternyata kami mengalami
dehidrasi akut, segera kami minum yang banyak mumpung sumber air melimpah di
pos ini.
Setelah cukup istirahat sekitar
satu jam di pos ini, perjalanan kami lanjutkan menuju pos 3, pos pondokan. Jarak
dan waktu tempuh lebih lama dibanding dari pos I ke pos II. Dan menurut saya,
perjalanan tahap ini yang paling dramatis. Selepas pos II, trek kembali naik
cukup curam dengan susunan batu yang kembali tidak tertata. Tak lama berjalan,
kami berpapasan dengan mobil jeep yang tadi pagi kami jumpai mau naik di pos
pet bocor. Wah cepat juga perjalanan karena sekarang sudah bertemu kami kembali
dengan posisi akan turun, namun agak ngeri juga dan ekstra waspada karena jalur
yang berbatu tidak rata serta sempit. Ngeri
euy.
Selama perjalanan kali ini kami
beberapa bertemu dengan beberapa rombongan yang akan naik juga dan beberapa
rombongan yang akan turun (di mana hal ini tidak kami temukan pada perjalanan menuju
pos II). Kebanyakan rombongan yang kami jumpai akan menuju gunung Welirang, sangat
jarang yang akan menuju gunung Arjuno, kalaupun ada hanya beberapa dan tidak
ada yang berencana menuju 2 gunung sekaligus seperti tujuan kami. Wajar saja
karena jalur menuju gunung Arjuno ada banyak sedangkan jalur menuju gunung
Welirang hanya satu, yakni jalur Tretes ini. Amazing. Beberapa kelompok menyarankan
kami untuk camp di lembah kidang
karena sudah lebih dekat ke Puncak Arjuno, tapi kami liat sikon nantinya. Kembali ke trek jalur yang bikin capek njobo njero, trek sudah terdapat
tanjakan curam dan Panjang yang bikin tiap beberapa langkah harus berhenti
untuk istirahat. Nah di sini pengalaman tidak enak di mulai ketika Akhmad mulai
merasakan ada yang mengikuti langkahnya di belakang, padahal di belakang dia tidak
ada rombongan lain. Mencoba berpikir positif saya dan Akhmad berpikir masa
bodoh hingga suatu tanjakan yang sangat Panjang dan curam. Saya piker itu adalah
tanjakan terakhir sebelum pos 3. Ternyata tak semudah itu Ferguso, masih naik
dan Panjang perjalanan. Gila!.
Selepas tanjakan PHP itu, saya
sudah mulai benar-benar lemas, mental sudah mulai down, ibarat main PES / FIFA moral pemain itu sudah biru atau ungu,
padahal waktu melahap tanjakan PHP itu mental sempat hijau atau bahkan merah
karena mendengar suara orang-orang di atas sana yang membuat saya mengira di
atas sana itu pos 3. Ternyata. Trek kembali naik namun kali ini cukup landau tapi
Panjang hingga keliahatan ujungnya. Dominasi pepohonan mulai terlihat yang
membuat suasana makin gelap karena hari semakin sore dan mendung. Suara berisik
yang tadi saya dengar ternyata berasal dari kelompok lain yang sedang
beristirahat. Suek!. Kami sempat
beristirahat cukup lama, merebahkan tubuh sambil memejamkan mata sebentar. Sekitar
10 menitan kami terlelap hingga hawa dingin mulai membangunkan kami.
Perjalanan pun di lanjutkan,
namun kembali Akhmad merasakan sesuatu hal yang ganjil yaitu terciumnya aroma
busuk di belakangnya, padahal di belakang dia tidak ada siapa-siapa dan di
tempat istirahat tadi tidak ada sisa kotoran atau sumber bau busuk yang lain. Makin
kalut dengan keadaan tubuh yang capek dan mental yang down, trek jalur menyuguhkan tanjakan yang lumayan curam dan Panjang.
Mungkinkah ini tanjakan asu yang merupakan tanjakan terakhir sebelum pos 3? Ah saya
tak mau memikirkannya lagi. Langkah demi langkah, istirahat sambil berdiri,
jalan lagi, istirahat lagi hingga rombongan kami terpisah menjadi 2 dengan
jarak beberapa puluh langkah. Saya dan Akhmad berada di belakang sedangkan Udin
berada di depan sendirian. Tanjakan itu pun terlewati hingga menyisakan turunan
dan kembali tanjakan di depan. Kondisi jalur kini berubah menjadi pohon-pohon
yang lebih tinggi namun terbakar di bawahnya, sepertinya daerah ini habis terbakar
baru-baru ini. Hingga pada suatu saat Akhmad kebelet kencing dan meminta saya untuk sedikit menjauh dan menunggu.
Setelah selesai, Akhmad mengembalikan botol air yang digunakan untuk cebok ke arah saya, tiba-tiba. Kkrraaakkk… kraakkk… suara misterius
mengerikan yang berasal dari pohon tumbang dan itu menjadi pengalaman pertama
bagi saya. Saya kira malah saat itu longsor karena suara hamper sama dan
seakan-akan tanah di sebelah kiri atas kami mulai turun. Kami seketika berlari
menjauh dan Brruukkkk..! Pohon tumbang persis di area tempat Akhmad kencing
tadi. Jantung berdebar kencang tak menyangka kejadian yang barusan terjadi, suasana
menjadi semakin mencekam karena hari semakin sore menjelang maghrib dan diapit
oleh pohon-pohon tinggi yang bagian bawahnya terbakar. Kami rasa bagian bawah
pohon yang terbakar menjadi rapuh sehingga tidak kuat menopang tubuh pohon
ketika dideru angin. Pohon yang tumbuh ada 1 namun menimpa pohon di bawahnya
sehingga ikut roboh. Jalur menjadi tertutup pohon.
Tak mau kondisi dipengaruhi oleh
suasana barusan, kami langsung jalan kembali sambil mengabari kelompok di depan
yang terpisah bahwa ada pohon yang tumbang yang mungkin akan menghalangi
pisahan kelompok itu di belakang. Tak lama setelah tanjakan terakhir akhirnya
kami sampai di pos 3, pos pondokan. Hari sudah mulai gelap dan dingin. Terdapat
warung di sisi kanan. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sini, bukan di
pos lembah kidang karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan dan hari yang
mulai gelap serta udara dingin mulai menusuk.
Setelah tenda berdiri, beberes
barang, ganti baju lalu sholat dan masak mie dan kopi seadanya kami langsung
beristirahat karena Lelah yang sangat atas 11 jam perjalanan dari basecamp menuju
pos pondokan.
-
Menuju Puncak Welirang 3156 mdpl
Jam 3 kami bangun untuk bersiap
menuju puncak Arjuno seperti rencana awal yaitu mendaki puncak Arjuno dahulu
kemudian puncak Welirang. Masak air
untuk kopi dan makan roti susu sebagai bekal energi. Saya merasakan kondisi
yang cukup dingin dan eneg yang
mungkin karena kemasukan banyak angin. Setelah Akhmad setor tunai di semak-semak yang gelap, kami bersiap untuk jalan
menuju Puncak Arjuno. Tapi adzan ternyata telah berkumandang jam setengah 4
pagi. Ya, shubuh di daerah sini sudah di mulai jam setengah 4 pagi. Akhirnya kami
sholat dahulu lalu kembali melanjutkan perjalanan sekitar pukul 4. Di awal
perjalanan kami tidak tahu jalan kemana yang menuju puncak Arjuno, mana yang menuju
puncak Welirang. Kami mengikuti jalan berbatu ke atas saja. Jalan langsung
menanjak dan berbatu, ada beberapa percabangan jalur yang cukup membuat bingung
namun sebenarnya ujungnya sama saja. Kami mulai berfirasat ini adalah jalur
menuju puncak Welirang. Sudah cukup lama berjalan, kami memutuskan untuk tetap
melanjutkan perjalanan ke puncak Welirang. Tak lama, saya merasakan perut mulas
dan pengen mengeluarkan sesuatu isi di perut. Lekas saya mencari semak dan setor tunai di situ. Lagi-lagi ini
merupakan pengalaman saya setor tunai
di alam terbuka dengan kondisi gelap dan rerumputan alang alang yang cukup
membuat gatal.
Setelah lega, perjalanan dilanjutkan
menyusuri jalur yang terlihat bekas trolly
para penambang pasir yang cukup membantu. Langit mulai terang dan perlahan
cahaya matahari mulai menembus sela-sela kanopi pohon yang kami lewati. Pukul 5
langit sudah cukup terang karena matahari sudah terbit. Trek jalur nanjak terus
yang membuat kami jadi cukup capek, apalagi cuaca kini mulai berangin kabut
yang cukup kencang yang membuat kami mulai kedinginan dan memaksa terus
melanjutkan perjalanan hingga sampai pada suatu lahan datar yang dinamakan yang
merupakan pertigaan menuju Puncak Arjuno lewat gunung kembari I dan II.
 |
Gunung Panderman dan Bukit lainnya |
 |
Arjuno dan Gunung Kembar |
 |
Selepas Pertigaan |
Selepas pertigaan, jalur melewati
pinggiran tebing dengan kontur datar sedikit naik. Cukup Panjang hingga berada
di belokan di mana puncak gunung Welirang terlihat sangat jelas dengan trek pasir
dan kepulan asap dari kawahnya. Jalur menjadi agak naik hingga benar-benar naik
untuk mencapai bukit yang kemudian tinggal lurus menuju puncak Welirang. Suasana
berkabut cukup tebal dengan angina yang berhembus cukup kencang membawa aroma
belerang yang menyengat, terutama jalur cekung persis sebelum puncak Welirang. Akhirnya
pada pukul 7 pagi kami sampai juga di puncak Welirang 3156 mdpl. Nampak gunung
kembar 1 dan 2 serta puncak Arjuno terlihat dari sini meski sedikit tertutup kabut.
 |
Menyelusuri pinggiran tebing |
 |
Sebelum tanjakan menuju puncak |
 |
Puncak Welirang yang kelihatan |
Setelah ritual mengabadikan momen
di puncak, sekitar 20 menit kemudian kami turun dari puncak Welirang melewati
jalur yang sama seperti kami menuju puncak tadi. Perjalanan terasa enteng
karena trek jalur panjang cenderung datar sedikit turun. Sesampainya di
pertigaan yang menuju gunung kembar 1 dan 2, kami memutuskan untuk terus menuju
Pondokan karena energi belum terisi dan persediaan air yang tinggal setengah
botol yang tidak memungkinkan kami pakai untuk menuju Puncak Arjuno via Gunung
Kembar 1 dan 2. Setelah hamper 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai kembali di
Pondokan.
 |
Puncak Welirang |
-
Menuju Puncak Arjuno 3339 mdpl
Sesampainya di tenda kami sedikit
rebahan, capek juga summit gunung Welirang yang didominasi trek naik terus
menerus. Cukup istirahat, saatnya masak nasi dan lauk pauk sebagai bekal untuk
menuju puncak Arjuno. Agak sedikit keraguan awalnya pada kami karena hari sudah
cukup siang dengan kondisi fisik yang mulai Lelah setelah summit Gunung
Welirang apa mau lanjut summit Arjuno yang lebih Panjang waktu tempuh serta
lebih sulit trek jalurnya. Setelah cukup makan dan sholat dhuhur ashar, pukul
12 siang kami nekat bulat menuju puncak Arjuno. Sing penting yakin, entah
sampai atau tidak yang penting usaha dahulu,
 |
Lembah Kidang |
Ternyata jalur menuju lembak
kidang (jalur menuju puncak Arjuno) berada dibawah warung tepat setelah sampai
di pos pondokan dari pos kopkopan. Ambil jalur ke kanan kalo dari atas atau ke
kiri kalau dari bawah. Trek langsung naik bukit kemudian cenderung datar, tak
lama sekitar 30 menit kami sampai di lembah kidang. Lembah kidang ternyata
sangatlah bagus dengan tebaran sabana hijau. Untuk sumber air berada di lembah
kidang 2. Setelah Udin mengambil air, perjalanan dilanjutkan. Trek jalur
langsung naik tanpa ampun. Gak pake santai. 2x naik cukup curam, sampailah pada
lembah sabana lain yang konon di hutan sebelah sana adalah alas lali jiwo.
 |
Again |
Selama di perjalanan cuaca
berkabut dan Nampak di ujung bukit sana terdengar suara gemuruh. Kami (Kecuali
Udin) yang tidak bawa jas hujan berharap tidak hujan sambil bertanya-tanya pada
beberapa pendaki yang turun setelah summit Arjuno. Rupanya kami kelompok
terakhir yang summit pada hari itu. Jelas lah, orang summit jam 12 siang. Dan ada
beberapa pendaki yang turun yang tidak yakin pada kami untuk mencapai puncak Arjuno
hari itu juga, sambil diingatkan bahwa nanti pasti turun malam hari. Hal ini
yang membuat kami sedikit termotivasi karena merasa diremehkan. Jalur kembali
naik cukup curam, kabut beserta angina dingin menemani perjalanan. Jaket yang
tadinya dislempangkan kini dipakai
plus sarung tangan karena udara sangat dingin. Beberapa kali dirasakan rintik uap
air yang dibawa oleh kabut. Pukul 4, kami benar-benar capek dan hampir frustasi
dengan tanjakan yang tak habis-habis. Di tengah kecapekan itu saya menyemangati
diri sendiri untuk menjaga mental jangan sampai ungu maupun biru, minimal
kuning atau hijau. Hal itu yang saya katakana pada Akhmad karena dia terlihat
sangat Lelah dengan 2 trackpole yang
dia bawa.
Setelah berkali-kali ditipu ujung
bukit yang ternyata di atasnya masih ada bukit lagi. Pada pukul setengah 5 sore
kami berhasil berada di bukit tertinggi yang di atasnya tak ada bukit lagi. Ternyata
jalur masih berlanjut dengan kanan kiri jurang hingga sampai di pasar dieng
dengan makam orang-orang yang gugur di Gunung Arjuno. Setelah melewati makam, jalur
agak naik sedikit hingga sampai ke puncak. Saya kira, atau bahkan kami kira ini
adalah puncak Arjuno hingga kabut yang hilang menyibakkan fakta bahwa puncak
Arjuno ada di seberang sana. Turun lalu naik lagi. Hahahahaa… Puncak PHP. Diamputtt.. Jujur, mental saat itu naik
turun tidak jelas antara merah karena sudah dekat puncak sampai ungu karena capeknya
sudah tidak ketulungan. Dengan tekad
45 dan sisa-sisa tenaga akhirnya kami turun yang turunannya cukup curam lalu
melewati lembah penghubung dan naik bukit batu yang tertancap bendera merah
putih sebagai tanda bahwa di situ merupakan puncak Gunung Arjuno, Puncak
Ogal-Agil.
 |
Trek menuju pasar dieng |
 |
Menuju puncak php |
 |
Sabana dan Puncak Welirang |

Peristiwa bersejarah tercatat
pada pukul 5 sore, kami berhasil menggapai Puncak Arjuno setelah sebelumnya
menggapai Puncak Welirang pada pagi harinya. Teriak-teriak sepuasnya, cuaca
cerah tak seperti yang diceritakan orang-orang yang turun tadi. Rejeki anak
sholeh. Hehehe.. Tampak puncak gunung semeru gagah berdiri dibalut awan-awan di
sebelah tenggara serta mentari yang akan mulai memasuki keharibaannya di
sebelah barat daya. Energi seakan tercharge meski hanya sedikit. Setelah ritual
mengabadikan momen dengan hembusan angina yang sangat kencang di puncak. 10
menit di puncak, kami akhirnya turun dari puncak. 10 menit doang di puncak
dengan 5 jam perjalan menggapainya. :D Mengejar mentari yang mulai tenggelam di
ufuk horizon kami menuju pasar dieng. Kami turun setelah pasar dieng, yang kami
rasa tadi tidak lewat sini. Udin yang di depan sebagai leader sepertinya bingung
atau disesatkan ketika memilih jalur. Saya dan akhmad meyakinkan Udin bahwa ini
salah jalur, akhirnya kami kembali naik dan menemukan pita putih yang merupakan
petunjuk jalur yang benar. Alhamdulillah. Setelah berada di atas, Nampak sunset
yang begitu indah di antara gumulan awan yang tidak akan kami sia-siakan untuk
diabadikan.
 |
Puncak |
 |
Puncak Semeru |
Setelah puas mengabadikan sunset
Arjuno kami meneruskan perjalanan pulang dengan kondisi langit yang sudah mulai
gelap. Sinar headlamp menjadi petunjuk cahaya untuk memilih jalur yang benar. Di
tengah perjalanan kami bertemu dengan 2 orang yang akan turun juga yang tadi
kami temui di puncak. Dengan rasa kehati-hatian dan percaya kepada Udin sebagai
leader pencari jalur di depan dengan tak lupa berdoa agar tetap berada di jalur
yang benar. Grusak-grusuk melewati turunan curam yang tak terlihat
berkali-kali. Ada untungnya juga turun pas langit gelap sehingga tidak terlihat
curamnya jalur yang bisa saja membuat mental down. Namun tetap dengan kehati-hatian yang ekstra karena tidak
terlihat mana batas antara jalur dengan jurang. Cukup mengerikan memang namun
dijalani tanpa sibuk memikirkannya.
 |
Sunset |
Pukul 8 akhirnya kami sampai di
lembah kidang 3 yang ditandai dengan jalur mulai datar yang artinya kami sebentar
lagi sampai di lembah kidang 2 dan mata air. Tak lama setelah itu kami sampai
di lembah kidang 2, di mata air, kami berpisah dengan 2 orang tadi yang
ternyata mereka ditinggal dari rombongannya yang total berjumlah 11 orang. Bajingan
main ninggalin kelompok. Sesampainya di mata air kami melepas penat sambil
membasuh muka dan minum air segar. Tak lama kami langsung gass pol menuju pos
pondokan yang ternyata cukup susah melihat jalur karena tertutup semak semak. Pukul
9 kami sampai di pondokan. Alhamdulillah. Syukur pada Engkau yang telah mengizinkan
kami menggapai 2 puncak, Arjuno Welirang dalam satu hari. Ganti baju, sholat,
masak seadanya lalu tidur. Akhmad Nampak sakit masuk angin tidur mendahului.
-
Pos III (Pondokan) - Basecamp
Pagi, Senin 19 November 2018 kami
bangun agak siang meski jam 4 sudah bangun karena hawa dingin. Setengah 5 pagi
kami sholat shubuh dengan suasana langit yang sudah mulai terang, mengambil air
di mata air pos pondokan yang berupa kolam tampungan air yang makin menipis. Kami
menjumpai kelompok yang baru datang yang akan ke Puncak Arjuno tapi arahnya ke
Puncak Welirang. Tak mau kelompok lain tersesat seperti kami, kami mengarahkan
mereka jalur menuju lembah kidang yang benar. Memang, di pos pondokan ini minim
atau bahkan tidak ada tanda kemana arah Welirang, kemana arah Arjuno sehingga
orang yang baru pertama kali ke sini dapat tersesat seperti kami.
Setelah makan dan beberes tenda
dan packing. Kami turun dari pos pondokan pada pukul 9 pagi. Menuruni jalur tempat
pohon tumbang kemarin sabtu. Melompatinya, kembali teringat kengerian sabtu
kemarin. Jalur turun terasa ringan hingga kami sampai di tanjakan asu PHP. Bersiap
menuruni tanjakan curam dan Panjang dengan kontur bebatuan yang bikin sakit
kaki. Setelah itu kami terus turun melewati jalur berbatu yang sangat Panjang dan
menyakitkan kaki. Pukul setengah 12 kami sampai di pos kopkopan. Istirahat sejenak,
makan gorengan dan minum nutrisari sertta tentunya isi ulang air dari mata air
pos kopkopan.
Pukul 12 kami bersiap kembali
turun, tiba-tiba cuaca berubah menjadi berkabut tebal, sangat tebal dengan
hembusan angina yang membuat hawa menjadi dingin seketika. Untung kabut hanya
lewat naik ke atas sehingga cuaca kembali terang meski tetap berawan
menggantung di langit. Perjalanan turun dari pos kopkopan menuju pos pet bocor rasanya
sangat Panjang tak habis-habis, mungkin karena sudah capek maksimal dan trek
jalur bebatuan yang tidak serata menuju pos pondokan. Beberapa kali kami melewati
jalur pintas tidak lewat jalur bebatuan untuk mobil jeep. Sempat kami lama
masuk jalur hutan agak lama dan masuk jalur kebun warga. Tak mau tersesat
akhirnya kami memilih kembali ke jalur yang sudah pasti yaitu jalur bebatuan
meski sakit kaki ini. Hahahaa..
 |
Melewati pohon tumbang |
 |
Sepatu 9 puncak |
Setelah 2 jam perjalanan akhirnya
kami sampai di pos pet bocor, laporan kepada petugas. Tiba-tiba hujan turun
cukup deras. Setelah kami istirahat sebentar, kami putuskan untuk melanjutkan
perjalanan turun menuju base camp karena memang sudah tanggung sedikit lagi
basecamp serta mengejar waktu untuk kembali ke stasiun Surabaya Pasar Turi.
Ternyata baru sebentar jalan, hujan semakin deras, akhirnya kami ngiyup di warung yang tersedia di antara
pos 1 dan basecamp. Kami pesan teh hangat sembari menunggu hujan agak reda. 15
menit hujan sudah agak reda, kami kembali jalan menembus rintik hujan menuju
basecamp. Jalur menuju basecamp yang berbatu dan menurun curam semakin
menyulitkan langkah karena jalur menjadi semakin licin dan harus ekstra
hati-hati. Akhirnya setelah berjalan berapa puluh ribu langkah, kami sampai
juga di basecamp. Perjalanan dengan pengalaman baru yang tak terlupakan. Arjuno
Welirang.
Total estimasi waktu dari
basecamp menuju pos pondokan :
Basecamp - Pos Pet Bocor :
1 Jam
Pos Pet Bocor - Pos Kopkopan :
4 jam + Istirahat 1 jam
Pos Kopkopan - Pos Pondokan :
5 Jam
Total : 11 jam
Pos Pondokan – Puncak Welirang : 3 Jam
Pos Pondokan – Puncak Arjuno : 5 Jam
Estimasi waktu ini tergantung
masing-masing pendaki karena fisik dan mental setiap orang berbeda-beda. Kami tergolong
pecel lele, pendaki cepat Lelah. Jadi harap maklum ya. :D Sekian share
pengalaman kami mendaki Gunung Arjuno Welirang dalam sehari. Semoga pengalaman kami
dapat berguna dan menginspirasi teman-teman pembaca yang lain. Salam lestari.
INGAT JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. BAWA
KEMBALI SAMPAHMU
JANGAN TINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK, JANGAN
AMBIL APAPUN KECUALI FOTO, DAN JANGAN BUANG APAPUN KECUALI WAKTU.
PS : GUNUNG ARJUNO WELIRANG INI TERMASUK CUKUP
KOTOR APALAGI DI POS PONDOKAN. TERDAPAT BANYAK SAMPAH DI MANA-MANA. JANGAN
DITAMBAHI SAMPAHNYA!